KEMANAKAH TIANG KEDAMAIAN
Haruskah kami tulis beribu surat?
Yang berisi bait keluhan kami
Kami bukan boneka yang dimainkan sembarang dalang tak berarti
Kami suara-suara yang makan tiwul dilumbung padi sendiri
Beribu sungut berpidato
Tentang apa yang terjadi ditanah suci bumi pertiwi
Mereka,para bajingan kolot....
Tangan-tangannya yang kotor meraung bak singa lapar
Apa yang telah mereka lakukan?
Keruh ruang kekosongan
Masalah satu pelik rawutan benang hitam
Dimanakah ujungnya?
Dicari seribu kaki seribu tangan
terselip dijagat keserakahan
Haruskah kami tulis beribu surat?
Yang berisi bait keluhan kami
Kami bukan boneka yang dimainkan sembarang dalang tak berarti
Kami suara-suara yang makan tiwul dilumbung padi sendiri
Beribu sungut berpidato
Tentang apa yang terjadi ditanah suci bumi pertiwi
Mereka,para bajingan kolot....
Tangan-tangannya yang kotor meraung bak singa lapar
Apa yang telah mereka lakukan?
Keruh ruang kekosongan
Masalah satu pelik rawutan benang hitam
Dimanakah ujungnya?
Dicari seribu kaki seribu tangan
terselip dijagat keserakahan
TANGISAN BATIN
Rintihan roda lapar
Nyaring diterompet usang
Tergeletak dipapan catur
Bingung,sang prajurit melangkah
Pedang tombak tiada guna ditangan
Tangan darah menengadah
Meminta pisau panas menusuk lawan
Bisu tuli tiada suara
Sebilah akar menjadi senjata
Bersimbah satu harapan menuju satu kebahagian
Rintihan roda lapar
Nyaring diterompet usang
Tergeletak dipapan catur
Bingung,sang prajurit melangkah
Pedang tombak tiada guna ditangan
Tangan darah menengadah
Meminta pisau panas menusuk lawan
Bisu tuli tiada suara
Sebilah akar menjadi senjata
Bersimbah satu harapan menuju satu kebahagian
Luka
Meski berat
kupikul tanggung
Dibawa
secarik kertas
Torehan
cacing-cacing liar, hitam!
Aku adalah
diriku sendiri
Tiada mesin yang
harus disesuaikan
Aku!!!
Bukan sebuah
angka tulisan
Haruskah?
Aku berlari
untuk seonggok bibir tak berucap
Untuk papan
nama masa depan
Utuh dalam
kekosongan
Tak ada
memori yang tersimpan
Hanya
deretan secuil huruf!